Senin, 23 Desember 2013

Tujuan Hidup

Apa sih tujuan kita sebagai umat Manusia ??
Tentu saja untuk beribadah kepada Allah ..
Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an ..
”Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Qs. Az-Zariyat :56)

Nahh .. Allah saja sudah mengatakannya pada kita, bahwa visi kehidupan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah ..

Tapi apa yang bisa kita lihat sekarang ??
Buaaanyak sekali manusia yang justru ingkar terhadap Allah .. mereka sudah dikasih hidup oleh Allah, tapi bukan digunakan untuk beribadah kepada Allah .. Melainkan digunakan untuk memenuhi keduniaan mereka saja, seperti untuk mencari kekayaan, popularitas, kepuasan jasmani, dan lain sebagainya ..
Bahkan ada yang jelas2 bermaksiat dan KAFIR menentang Allah .. Naudzubillah ..

Bisa kita lihat dengan jelas, Kondisi umat islam saat ini benar2 dalam ambang kehancuran moral .. Bagaimana tidak?? Wanita2 muslim sudah enggan memakai Jilbab sebagai identitas asli mereka, Jangankan Jilbab .. Kerudung pun sudah banyak yang sangat enggan untuk memakainya ..
Mengapa demikian??

Semua itu karena begitu banyaknya pengaruh Globalisasi yang ditularkan oleh kaum2 Kafir kepada umat Islam .. Terutama di Indonesia sebagai Negara yang popularitas muslim TERBESAR di Dunia ..

Apalagi dengan adanya Sistem Pemerintahan Demokrasi yang jelas2 tidak menguntungkan, malahan bikin BUNTUNG .

Mengapa demikian?? Katanya sihh .. Demokrasi (Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat)
Tapi apa ?? APBN kita 70% dimakan sendiri oleh orang2 diatas untuk kepentingan mereka sendiri, sedangkan untuk Rakyat yang segini Bejibun’nya hanya diberikan SISA !!

Pantas saja banyak sekali Rakyat Indonesia yang memiliki predikat Keluarga Miskin dan Mendapat gelar Mati Kelaparan.
Pengemis dan Gelandangan pun sudah tak aneh dijumpai dimana-mana ..
Huhh .. ngeri banget deh bahasnya ..

Lanjut lagi kepada Kondisi umat islam ..
Dari potret umat islam pada saat ini, Mereka yang Katanya kebanyakan beragama Islam .. Justru sudah tidak lagi memakai aturan Islam itu sendiri .. Bahkan katanya GENGSI .. Pakai Kerudung gengsi .. Pakai Jilbab takut dibilang Norak, Kayak Emak-emak, kayak Ninja lah,  Gak Gaul lahh .. Pokoknya banyak deh.
Sangat  Banyak Fitnah yang mereka lontarkan kepada aturan Allah yang jelas2 adalah aturan terbaik yang diberikan untuk manusia ..

Mengapa seperti itu??? Itu semua karena Capitalism System ! Yaa ! karena Sistem KAPITALISME yang kini sedang menjajah kita.

Apa sih Kapitalisme itu ??
KAPITAL = Modal . ISME = Paham
Jadi Kapitalisme adalah Paham yang menjadikan Pem
odal atau Orang yang memiliki Uang sebagai Penentu Pandangan dan Peraturan hidup.

Lho? Apa hubungannya sama aturan islam ??
Tentu sangat berhubungan .. Yuuk kita bahas.

Minggu, 22 Desember 2013

Catatan kecil buat Ibu, calon Ibu dan anak Ibu

22 Desember di Indonesia diperingari sebagai Mother’s Day – Hari Ibu.
Kita nggak tau darimana datangnya itu, yang jelas seharusnya Hari ibu bukan alasan untuk baik pada ibu pada satu hari aja,
karena mereka layak mendapatkan itu dari kita setiap harinya.

Jadi Hari Ibu seharusnya bukan ajang ‘pamer’ perhatian pada ibu pada satu hari saja, namun lebih kepada pengingat bagi ibu dan bagi anak-anak ibu untuk menghormati dan memuliakan posisi sebagai seorang ibu.
Maka setidaknya ada hal-hal yang harus diingat oleh ibu dan calon ibu:

1. Islam memandang ibu adalah pendidik utama anak

          Dalam hadits disebutkan: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu,” jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya orang itu lagi. “Kemudian ayahmu,” jawab Rasulullah (HR. Bukhari dan Muslim)

Disini ibu disebutkan Rasulullah 3x baru ayah 1x. Kalau boleh mengambil permisalan, maka seharusnya ibu punya tanggung jawab 3x lipat dari ayah. Ibulah yang mendidik anak-anaknya dalam porsi yang lebih besar.  Semakin baik kualitas ibu, semakin baik generasi yang dihasilkan.

2. Islam menaruh ibu sebagai orang nomor satu ditaati setelah Allah dan Rasul-Nya

          Posisi ini juga bukan posisi yang sembarang, ini posisi yang sangat mulia. Islam lewat ‘birrul walidain’ menggariskan bahwa posisi orangtua adalah paling tinggi setelah Allah dan Rasul-Nya. Dan ketaatan pada mereka disamakan dengan ketaatan pada Allah, dan murka mereka sama seperti murka Allah.

Dalam kenyataan, masih banyak kita temukan orangtua, terutama ibu yang justru melarang anaknya berbuat baik, bahkan mensponsori keburukan. Melarang anaknya berkerudung dan berjilbab, melarang anaknya berdakwah dan berjuang dalam Islam, atau bahkan meminta anaknya berpacaran.

Bayangkan, bagaimana yang terjadi pada generasi Islam bila orangtuanya semacam ini? Subhanallah.
Seharusnya sebagai orang yang paling ditaati setelah Allah dan Rasulullah, ibu menjadi tiang utama dalam mengajarkan amar ma’ruf dan nahi munkar bagi anaknya. Menjadi teladan hidup bagi anak-anaknya dalam perjuangan Islam.

3. Ibu lebih memerlukan ilmu dalam mendidik anak-anaknya, karena itu ibu harus lebih banyak ikutan majelis ta’lim (majelis ilmu)

          Anak akan menyerap apapun yang dikatakan ibunya, karena ibunya adalah patron baginya. Ada ibu-ibu yang beralasan pada saya bahwa dia terlalu sibuk, terlalu banyak kerjaan untuk mengikuti majelis ta’lim dan mengkaji Islam.

Justru sebaliknya, semakin banyak kita memiliki anak, maka semakin banyak ilmu yang perlu kita siapkan. Dan ilmu tidak mungkin ada tanpa kita cari dan kita kaji.

Membesarkan anak tanpa ilmu sama saja menuntunnya ke depan jurang kehidupan. Dan mencari ilmu dalam mendidik anak (walaupun sulit), akan memudahkan urusan kita di alam kubur nantinya.

4. Sayang sekali, sekarang banyak ibu yang lebih sayang kambing daripada anaknya, kambingnya diiket, anaknya dibiarin

          Coba lihat menjelang Idul Adha. Kambing diikat dimana-mana, takut kehilangan. Ironisnya, ibu-ibu sering membiarkan anaknya bermain tanpa pengawasan, dan akhirnya mempelajari hidup bukan dari ibunya, tetapi dari teman-temannya. Balik rumah syukur, nggak balik ya buat lagi.

Ada juga orangtua yang sibuk ikut majelis ta’lim namun tak perhatian pada anaknya. Mereka lupa bahwa ilmu bukanlah simpanan, namun sesuatu yang harus dibagikan. Mreka puas ketika menutup aurat, namun bangga ketika anaknya mengumbar aurat. Banyak yang seperti itu bisa kita lihat pada umat Islam masa kini. Lebih parah lagi ketika ibu menyuruh anaknya berbuat baik, namun tidak mencontohkan dengan dirinya. Meminta anaknya menutup aurat di sekolah, namun ia menjemput anaknya dengan tanktop. Seperti lilin, menerangi orang lain tapi membakar diri sendiri.

Rupanya banyak ibu yang melupakan bahwa untuk melahirkan anak itu perlu perjuangan luar biasa selama 9 bulan 10 hari ditambah fase melahirkan. Kebanyakan ibu memberikan perhatian di awal-awal saja, padahal pendidikan kepada anak itu terus berlanjut hingga mereka baligh, bahkan sampai salah satu darinya meninggal.

5. Buat ibu-ibu yang berkarir, “is it worthed?” sekian juta sebagai pengganti waktu dengan buah hati?

          Bila kita menanyakan “Siapa ibu de-facto anak-anak masa kini?”. Mungkin ‘pembantu’, ‘babysitter’ adalah jawaban yang tepat. Anak-anak main dengannya, tidur dengannya, bercengkerama dengannya, disuapi makan olehnya dan bahkan disusui olehnya. Dengan alasan nafkah (yang sebenarnya bisa kalau diusahakan) mereka menerjunkan diri pada dunia kerja yang tak berkesudahan. Pergi saat buah hati masih tidur, dan pulang ketika mereka telah tidur.

Jangan salahkan pembantu dan babysitter ketika anaknya nantinya justru menangis saat ditinggal pembantu atau babysitter daripada ditinggal ibunya.

Maksimal mendidik anak bukan masalah materi. Tapi masalah ilmu yang kita berikan untuk dia. Jangan sampe nyesel dibelakang karena nggak memberikan pendidikan yang maksimal.

Ala kulli hal, bagi ibu-calon ibu-dan anak-anaknya. Patut kiranya kita mengetahui bahwa jasa ibu tak akan dapat dibalas oleh anak-anaknya. Simak hadits berikut:

Suatu ketika Rasul ditanya oleh seseorang : “ Ya Rasul, sunnguh saya telah menggendong ibu saya sejauh 2 farsakh (9,6 kilometer) di jalan berpasir yang terik, andai atas pasir itu diletakkan sepotong daging niscaya matang daging itu. Apakah dengan begitu saya telah menyampaikan rasa terima kasih saya kepadanya ? “, Nabi menjawab, “Mungkin hal itu baru bisa membalas sedikit rasa sakitnya saat bunda melahirkanmu” (HR Thabrani )



Semoga sayang kita kepada kedua orangtua khususnya ibu menjadi lebih termaknai,
dan semoga persiapan menjadi ibu serta mendidik anak semakin baik.

Kamis, 19 Desember 2013

A Little Poem

I see a shadow coming through,
I heard voices talk too loud  Feel  the madness crawling up my spine,
Where the full moon shining through,
Where the tax man stacked to the moon
Where the morning come and change my world

Do you remember when….
do you feel better boy
Just learn your lesson well,  we live as one we die alone.
Tell me when your eyes say yes
tell me when your lips say no
Tell me when I break a spell the deeper  touch the higher I'll go… my friend

How can I see tomorrow,
If you keep me in the dark,
see forever if you damn me from the start
You build a wall inside a wall,
You will knocked inside a door
keep the silence come in from the gold

You'll be the number one…
You'll be the queen of heart…
You still the only one forever heart, forever young
Somewhere I lost a piece…
Somehow I know my legs…
Sometimes I heal the world off memories still remains me

Brother hear my story don't you take no pity out on me
Dust away the fall the winter leaves for set tomorrow free,
The morning coming call...
All the precious time…Rest Again
 All the wasted time…Back Again
All the for the light…Rise Again
This is all the word, for the poem ... Bleed…!!

In the named of the damned a rage the angel left silence and gold
Tell me when your kiss become a sin too deep to hide to lights…
You believe I can...

And All blaze of free…Feed your minds
 All the glory time…Sing my trust
All the for the young…More get stronger
This is our poem…!

All the for the poem…I wrote this song
 All the for the punk…Tell us the truth
 All the for the gigs…More get stronger
You left only one…!

“We live as one we die alone,
 Dust to dust ash to ash,
Easy come easy go, but not you ...”